Indonesia dan Jepang Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis dan Nuklir

banner 468x60

Minerba.id — Pemerintah Indonesia dan Jepang resmi memperkuat kerja sama strategis di sektor energi melalui penandatanganan nota kesepahaman di bidang mineral kritis dan energi nuklir. Kesepakatan ini menjadi langkah penting dalam memperkokoh ketahanan energi nasional sekaligus mendukung agenda transisi menuju energi bersih di tengah dinamika geopolitik global.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam rangkaian forum Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum yang berlangsung di Tokyo. Dalam forum tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa.

banner 336x280

Dalam pertemuan itu, kedua negara menandatangani Memorandum of Cooperation (MoC) yang mencakup dua sektor strategis: pengembangan mineral kritis dan pemanfaatan energi nuklir. Kerja sama ini diharapkan mampu menciptakan sistem energi yang lebih terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan.

Bahlil menegaskan Indonesia terbuka bagi kolaborasi dengan Jepang, khususnya dalam pengelolaan sumber daya mineral strategis. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi penting dalam rantai pasok global, dengan cadangan nikel mencapai sekitar 43 persen dari total dunia, serta potensi besar pada komoditas lain seperti bauksit, timah, tembaga, hingga logam tanah jarang.

“Indonesia sangat terbuka untuk kerja sama. Kami mengundang pemerintah dan pelaku usaha Jepang untuk bersama-sama mengelola mineral kritis yang kami miliki,” ujar Bahlil.
Kerja sama di sektor mineral kritis difokuskan pada penguatan rantai pasok global agar lebih aman dan andal, sekaligus mendukung pengembangan teknologi energi bersih. Langkah ini dinilai krusial dalam menghadapi meningkatnya kebutuhan energi rendah karbon di kawasan Asia-Pasifik.

Sementara itu, Akazawa menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara dalam menghadapi ketidakpastian global. Ia menyebut Jepang telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah mitigasi terhadap potensi krisis energi.
“Dalam situasi global saat ini, penguatan kerja sama menjadi kunci untuk menjaga ketahanan energi,” kata Akazawa.

Ia juga mengapresiasi dukungan Indonesia terhadap ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) ke Jepang, serta menegaskan komitmen negaranya dalam mendukung berbagai proyek energi di Indonesia, termasuk penyelesaian Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka.

Di sektor energi nuklir, kerja sama difokuskan pada pengembangan teknologi dengan standar keselamatan tinggi. Melalui kemitraan ini, Indonesia berpeluang memanfaatkan pengalaman Jepang dalam mengembangkan solusi energi rendah karbon berbasis teknologi maju.

Ke depan, Indonesia dan Jepang akan melanjutkan pembahasan terkait penguatan rantai pasok energi, termasuk LNG dan batu bara, serta percepatan proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community. Beberapa proyek prioritas yang didorong antara lain optimalisasi PLTP Sarulla dan penyelesaian PLTSa Legok Nangka.

Kerja sama strategis ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mempercepat upaya dekarbonisasi dan transisi menuju energi bersih di kawasan Indo-Pasifik.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *