Minerba.id – Kementerian ESDM mencatat bahwa kebijakan hilirisasi mineral mendorong peningkatan nilai ekspor produk olahan tambang secara signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, nilai ekspor hasil pengolahan mineral meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan ekspor bahan mentah, seiring beroperasinya smelter di berbagai daerah.
Data BPS menunjukkan sektor industri pengolahan berbasis tambang memberikan kontribusi sekitar 18–20 persen terhadap PDB industri nasional. Angka ini memperlihatkan bahwa hilirisasi tidak hanya berdampak pada ekspor, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi domestik.
Namun, ICMM mengingatkan bahwa hilirisasi harus disertai efisiensi energi dan pengelolaan limbah industri. Tanpa standar keberlanjutan, peningkatan kapasitas produksi justru berpotensi memindahkan masalah lingkungan dari tambang ke kawasan industri.
Global Mining Review mencatat negara-negara yang sukses dalam hilirisasi umumnya memiliki kebijakan insentif investasi yang konsisten dan kepastian regulasi jangka panjang. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia.
Hilirisasi tambang akan tetap menjadi agenda strategis nasional karena berhubungan langsung dengan daya saing industri dan kemandirian ekonomi jangka panjang.









