Minerba.id – Pasar bijih besi memasuki fase penyesuaian pada November 2025, dengan harga acuan 62% Fe menurun ke kisaran sekitar USD 103–105 per ton dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, mencerminkan tekanan dari pelemahan permintaan di China sekaligus dinamika pasokan besar yang mulai bergeser. Investing.com+1
China — sebagai konsumen terbesar dunia — menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang jelas di sektor baja: produksi baja dan konsumsi yang melambat selama 2025 telah mengurangi laju impor bijih besi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, tekanan yang membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi permintaan jangka pendek. Dampak ini terasa pada kontrak berjangka dan harga spot yang korektif selama beberapa pekan terakhir. IISS+1
Di sisi pasokan, peluncuran resmi proyek tambang Simandou di Guinea pada November 2025 menjadi titik balik strategis dalam peta pasokan global. Proyek berskala besar ini, dengan kepemilikan mayoritas China, diproyeksikan mampu menghasilkan puluhan juta ton bijih berkualitas tinggi setiap tahun setelah kapasitas penuh tercapai — sebuah potensi sumber pasokan high-grade yang dapat memperkaya pilihan pabrik baja di Asia dan menekan spread kualitas yang selama ini menguntungkan beberapa eksportir. Reuters
Sementara itu, produsen besar seperti Australia dan Brasil tetap menjadi poros volume global; Australia dan Brasil mempertahankan posisi sebagai eksportir utama meskipun perusahaan-perusahaan seperti Vale beradaptasi melalui strategi prioritas produk bermutu tinggi. Pada 2024–2025 beberapa raksasa tambang melaporkan perubahan produksi dan prioritas penjualan untuk mengatasi volatilitas harga. Investing News Network (INN)+1
Dinamika perusahaan besar juga memengaruhi sentimen pasar. Perusahaan-perusahaan tambang besar melaporkan produksi yang kuat namun menahan volume tertentu demi margin dan kualitas, sementara kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi China membuat beberapa pelaku industri menunda keputusan pembelian besar. Laporan triwulanan menunjukkan produsen global menilai permintaan tetap “resilient” dalam jangka menengah, namun risiko downside jangka pendek tetap nyata. Financial Times
Untuk pelaku pasar dan pembuat kebijakan di negara produsen, kombinasi faktor ini menghadirkan dilema: mendorong volume untuk mengejar pangsa pasar atau mengatur pasokan agar harga tidak anjlok. Bagi pembeli (terutama pabrik baja China), periode ini menjadi kesempatan menegosiasikan kontrak jangka menengah sambil mengamati perkembangan proyek skala besar seperti Simandou yang dapat mengubah peta pasokan dalam beberapa tahun ke depan.
Dari perspektif Indonesia, dorongan kebijakan hilirisasi mineral yang terus berlanjut menunjukkan minat untuk memaksimalkan nilai tambah domestik pada berbagai komoditas — meski bijih besi bukan sebesar nikel dalam hal investasi downstream, peluang pengembangan industri baja lokal tetap menjadi pembicaraan di level kebijakan dan investasi. Pendekatan ini akan menentukan bagaimana Indonesia menempatkan diri dalam rantai pasokan regional. Antara News
Kesimpulannya, pasar bijih besi pada November 2025 menunjukkan kombinasi koreksi harga jangka pendek yang didorong oleh perlambatan permintaan China dan ketentuan pasokan baru yang potensial — khususnya proyek Simandou — yang dapat menambah pasokan high-grade dalam beberapa tahun mendatang. Pemain industri disarankan memantau perkembangan produksi China, jadwal pemasokan dari proyek-proyek besar, dan sikap produsen utama dalam mengelola volume penjualan untuk menjaga momentum pasar yang lebih stabil.










