Minerba.id – Wilayah tambang nikel di Bahodopi menjadi pusat konflik antara warga dan perusahaan pada 2025. Aksi protes terjadi karena warga menilai aktivitas tambang merusak hutan dan lahan pertanian.
Konflik memuncak pada Juli 2025, ketika warga melakukan blokade jalan dan memprotes aktivitas pengangkutan bijih nikel. Aparat keamanan turun untuk mengamankan lokasi, memicu ketegangan.
Warga menuntut adanya kompensasi lingkungan dan pemulihan lahan yang terdampak. Mereka juga meminta perusahaan menghentikan operasi di beberapa area yang dianggap sensitif secara ekologis.
Perusahaan mengklaim telah mengikuti prosedur izin dan standar lingkungan yang berlaku, termasuk pengelolaan limbah dan reklamasi lahan. Namun, masyarakat menilai praktik tersebut belum maksimal.
Pemerintah daerah akhirnya memediasi kedua belah pihak dan menetapkan beberapa area tambang harus ditutup sementara hingga audit lingkungan selesai.











