Minerba.id – Bencana tambang kembali mengguncang Republik Demokratik Kongo setelah runtuhan besar terjadi di tambang koltan Rubaya pada awal 2026. Peristiwa ini menewaskan lebih dari 600 orang dalam dua kejadian terpisah.
Runtuhan pertama terjadi pada akhir Januari, disusul longsor kedua pada awal Maret. Kedua insiden ini dipicu hujan deras yang menyebabkan tanah menjadi labil dan terowongan runtuh.
Tambang Rubaya diketahui dikelola secara tradisional dengan minim standar keselamatan. Banyak pekerja menggali secara manual tanpa perlindungan memadai.
Situasi diperparah karena wilayah tambang berada di bawah pengaruh kelompok bersenjata M23 yang telah menguasai area tersebut sejak 2024.
Tambang ini menyumbang sekitar 15% pasokan tantalum dunia, sehingga tragedi ini tidak hanya berdampak lokal tetapi juga mengganggu rantai pasok global.











