Minerba.id – Indonesia dengan ratusan aktivitas pertambangan menghadapi konsekuensi ekologis yang tidak ringan. Data ESDM menunjukkan bahwa wilayah tambang banyak berada di kawasan hutan dan daerah aliran sungai, menjadikan isu degradasi lingkungan sebagai tantangan utama. Perubahan bentang alam akibat tambang terbuka telah memengaruhi keseimbangan ekosistem secara luas.
BPS mencatat bahwa daerah dengan intensitas pertambangan tinggi sering kali mengalami tekanan lingkungan lebih besar dibanding sektor ekonomi lainnya. Penurunan kualitas air dan tanah menjadi isu berulang, terutama di wilayah dengan pengawasan terbatas. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan mendesak akan sistem mitigasi yang konsisten.
ICMM menegaskan bahwa pertambangan modern harus mengedepankan prinsip minim dampak dan restorasi lingkungan. Negara yang gagal menerapkan standar ini berisiko menanggung kerugian ekologis jangka panjang yang nilainya jauh melampaui keuntungan ekonomi sesaat.
Laporan Global Mining Review menunjukkan bahwa praktik reklamasi dan rehabilitasi yang efektif mampu menekan dampak lingkungan hingga lebih dari separuh dalam jangka panjang. Hal ini menempatkan kebijakan pascatambang sebagai faktor krusial dalam tata kelola pertambangan nasional.
Dengan jumlah tambang yang besar, Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis antara eksploitasi dan konservasi. Pendekatan berbasis data dan pengawasan berkelanjutan menjadi kunci agar sektor tambang tidak meninggalkan beban lingkungan bagi generasi berikutnya.





