Di Forum Energi Indo-Pasifik, Bahlil Lahadalia Dorong Kolaborasi Global Hadapi Krisis Energi

banner 468x60

Minerba.id – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, isu ketahanan energi kembali menjadi sorotan utama dalam Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum yang digelar di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3) waktu setempat.

Forum tingkat tinggi yang mempertemukan para menteri energi dan pelaku industri dari kawasan Indo-Pasifik ini menjadi ajang strategis untuk memperkuat kerja sama lintas negara, terutama dalam menghadapi ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah.

banner 336x280

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan pentingnya membangun kolaborasi yang saling menguntungkan antarnegara. Menurutnya, kerja sama menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasokan energi di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia saat ini, kita perlu memperkuat kolaborasi yang saling mengangkat, bukan justru saling menjatuhkan,” ujar Bahlil di hadapan para delegasi.

Sebagai bentuk komitmen, Indonesia disebut telah berkontribusi signifikan terhadap pasokan energi global. Sepanjang 2025, Indonesia mengirimkan sekitar 150 kargo Liquefied Natural Gas (LNG), serta menyuplai hampir setengah dari total perdagangan batu bara dunia.

Menurut Bahlil, kontribusi tersebut menunjukkan peran strategis Indonesia dalam menjaga stabilitas energi global. Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa setiap negara tetap akan memprioritaskan kebutuhan domestiknya apabila kerja sama tidak berjalan optimal.

Indonesia sendiri, sebagai negara importir minyak, terus mencari alternatif untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemanfaatan sumber daya dalam negeri, termasuk peningkatan penggunaan Crude Palm Oil (CPO) menjadi biodiesel. Sebagai produsen dan eksportir CPO terbesar dunia, Indonesia mencatatkan ekspor hingga 30 juta ton per tahun.

Di sisi lain, Bahlil juga menyoroti dinamika transisi energi global. Meski Perjanjian Paris mendorong pengurangan penggunaan batu bara, kenyataannya sejumlah negara justru masih meningkatkan impor komoditas tersebut dari Indonesia.
Pemerintah Indonesia, lanjutnya, tetap berkomitmen menjalankan transisi energi secara bertahap melalui pengembangan energi terbarukan. Salah satu langkah konkret adalah program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto.

Program ini difokuskan pada pengurangan penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan penguatan bauran energi bersih nasional.

Forum yang diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang bersama National Energy Dominance Council tersebut menghasilkan pernyataan bersama yang menekankan pentingnya memperkuat ketahanan energi kawasan Indo-Pasifik, sekaligus menghormati strategi transisi energi yang dipilih masing-masing negara.

Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa di tengah krisis global, kolaborasi energi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi stabilitas kawasan dan dunia.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *