Minerba.id — Di sejumlah wilayah Indonesia, terutama kawasan 3T, listrik masih menjadi kemewahan yang belum dirasakan banyak keluarga. Anak-anak belajar dengan lampu minyak, aktivitas warga berhenti ketika malam tiba, dan akses layanan dasar ikut terhambat. Namun ketertinggalan tersebut perlahan teratasi melalui program nasional “Merdeka dari Kegelapan” yang diinisiasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Melalui program ini, pemerintah menargetkan seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati listrik, bukan hanya sebagai penerang, tetapi sebagai pintu masuk menuju pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang lebih baik. Tekad itu kembali ditegaskan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat meresmikan tiga proyek strategis: Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Sulawesi Utara, PLTMH Wairara (128 kW) di Sumba Timur, NTT, serta PLTMH Anggi I (150 kW) dan peletakan batu pertama PLTMH Anggi II (500 kW) di Pegunungan Arfak, Papua Barat.
“Saya perintahkan, pada 2029 sampai 2030 semua desa dan kelurahan harus berlistrik. Tidak boleh lagi anak-anak kita tumbuh tanpa fasilitas dasar yang layak,” tegas Bahlil.
Elektrifikasi Nasional Sudah 98,53 Persen
Hingga Semester I 2025, rasio elektrifikasi nasional mencapai 98,53 persen. Artinya, masih ada sekitar 1,47 persen rumah tangga yang belum menikmati listrik, terutama di wilayah terpencil dan terluar. Daerah-daerah ini kini menjadi prioritas pemerintah.
Bahlil menekankan agar seluruh anggaran kelistrikan diarahkan untuk mempercepat konektivitas energi di wilayah paling tertinggal.
“Prioritaskan dulu seluruh kawasan 3T. Selesaikan semuanya,” ujarnya.
Di Sulawesi Utara, elektrifikasi sudah mencapai 99,40 persen, sementara Papua Barat baru 89,80 persen, dan NTT 89,22 persen.
BPBL: Menyambungkan Harapan Rumah Tangga
Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) menjadi motor utama pemerataan akses listrik bagi keluarga kurang mampu. Sejak bergulir pada 2022, program ini telah menyambungkan listrik ke 155.429 rumah tangga, dan pada 2025 ditargetkan mencapai 215.000 sambungan baru.
Salah satu penerima manfaat, Yoli Walangitan, warga Desa Tounelet, Minahasa, mengaku program ini membawa perubahan signifikan bagi keluarganya.
“Kami berterima kasih kepada Pemerintah, Presiden Prabowo, dan Menteri ESDM. Semoga program ini terus menjangkau desa-desa lain,” ujarnya.
PLTMH Wairara: Energi Terbarukan untuk Desa Pertama yang “Merdeka dari Kegelapan”
Di Sumba Timur, PLTMH Wairara menjadi simbol transformasi energi bersih. Dengan kapasitas 128 kW, pembangkit tenaga air skala mikro ini melistriki 105 rumah tangga, sekolah, puskesmas, gereja, hingga fasilitas pemerintah. Sejak beroperasi pada November 2022, desa ini tak lagi bergantung pada bahan bakar fosil.
Wakil Menteri ESDM Yuliot menyebut PLTMH Wairara sebagai model pembangunan energi yang menyesuaikan karakter alam lokal.
“Dampaknya nyata: akses energi bersih, tumbuhnya UMKM seperti tenun ikat Sumba Timur, hingga meningkatnya kemandirian desa.”
Pegunungan Arfak Menuju Daerah Pertama Berbasis 100% EBT
Di Papua Barat, pembangunan PLTMH Anggi I dan Anggi II menjadi langkah monumental. Kabupaten Pegunungan Arfak ditargetkan menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang keseluruhan listriknya berasal dari energi baru terbarukan.
Penambahan kapasitas 2 × 250 kW akan mengurangi kebutuhan BBM untuk PLTD yang selama ini menjadi satu-satunya sumber listrik di wilayah tersebut. Sistem ini akan mengintegrasikan sejumlah distrik termasuk Sururey, Demaisi, Taige, Catubouw, Menyambouw, Hink, dan Anggi Gida.
Kebanggaan itu turut dirasakan warga. Jemmy Yahindo, warga Distrik Anggi, mengungkapkan perbedaan kehidupan sebelum dan sesudah listrik hadir.
“Dulu saya belajar pakai lampu lirik. Sekarang desa kami punya listrik sendiri. Kami bisa bersaing dengan kabupaten lain.”
Makna Strategis bagi Tanah Papua
Pembangunan infrastruktur energi di Papua tidak hanya menyangkut angka elektrifikasi. Lebih dari itu, kehadiran listrik dipandang sebagai bentuk pemenuhan keadilan sosial, pemberdayaan masyarakat adat, dan penguatan identitas wilayah yang selama ini terpinggirkan dalam pembangunan nasional.
Dengan meningkatnya konektivitas energi, daerah-daerah di timur Indonesia kini mulai mengejar ketertinggalan dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih setara.




