Minerba.id – Dalam diskusi publik bertajuk “Refleksi 1 Tahun Pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka”yang digelar Forum Pemerhati Kebijakan Publik (FORMATIK), Selasa, (11/11/2025). Praktisi muda La Ode M. Rudiansyahmenyampaikan pandangannya soal pro dan kontra terhadap kinerja duet pemimpin nasional tersebut.
Menurut La Ode, hasil survei menunjukkan sekitar 70 persen masyarakat menilai pemerintahan Prabowo–Gibran masih diwarnai pro dan kontra. Beberapa faktor utama yang menjadi sorotan publik adalah program Gizi Gratis, penegakan hukum, dan transparansi ekonomi.
“Saya melihat dua hal penting, yaitu program Gizi Gratis yang sudah mulai dirasakan dampaknya, dan isu penegakan hukum yang dianggap melemahkan peran KPK,” ujar La Ode dalam forum tersebut.
La Ode menambahkan, dari sisi kebijakan, Prabowo Subianto dinilai cukup membuat masyarakat merasa nyaman, meski masih ada tantangan besar dalam hal efisiensi pemerintahan dan keberlanjutan program.
“Kalau nanti Prabowo lanjut dua periode, maka akan ada keberlanjutan. Tapi kalau yang memimpin orang lain, bisa jadi kebijakan akan berubah,” tambahnya.
Dalam momentum Hari Pahlawan, La Ode juga mengajak publik untuk merenungkan kembali makna nasionalisme dan keadilan sosial di era sekarang. Ia menilai, nasionalisme bukan lagi persoalan utama, melainkan distribusi keadilan yang merata.
“Sampai 2025, nasionalisme kita nggak ada masalah. Yang perlu dibahas adalah prinsip keadilan. Kalau nasionalisme sudah tercapai, kini saatnya fokus pada pemerataan kekuasaan dan keadilan sosial,” ujarnya.
Ia juga menyinggung soal penetapan Pahlawan Nasional yang dinilai belum sepenuhnya adil.
“Kenapa Marsinah dianggap pahlawan, tapi Munir belum? Kenapa Gus Dur dan Soeharto jadi pahlawan, sementara BJ Habibie tidak? Ini harusnya menjadi bahan refleksi pemerintah,” kata La Ode.
La Ode juga menekankan pentingnya peran konten kreator dan masyarakat digital dalam mengawal demokrasi di era informasi. Menurutnya, publik perlu aktif membangun narasi positif agar tidak kalah oleh arus informasi yang bias.
“Gerakan di media sosial itu penting. Kita harus ambil bagian, jangan kalah oleh teknologi. Sekarang sulit membedakan narasi positif dan negatif,” tegasnya.
Sebagai penutup, La Ode berharap agar diskusi publik seperti ini menjadi agenda rutin tahunan. Ia menilai forum semacam ini dapat menjadi ruang refleksi sekaligus pengawal demokrasi di Indonesia.
“Kalau bisa, diskusi seperti ini dilakukan tiap tahun supaya kita tetap kritis dan berperan sebagai agen perubahan,” pungkasnya.






